KUMPULAN CERITA NON FIKSI DARI "LANGIT PENGALAMAN"

Sabtu, 04 Juli 2026

Izhārul Mahāroh: Puncak Latihan Arabic Speaking Santri IMSHI

Izhārul Mahāroh adalah kegiatan yang cukup populer dan dinanti-nantikan oleh seluruh santri IMSHI. Bagaimana tidak, kegiatan ini cukup langka karena hanya diadakan sekitar satu kali dalam satu semester. Dalam kegiatan ini pula, para santri jadi bisa lembur bersama sambil bersorak-sorak dan hampir tidak ada santri yang terlelap saat kegiatan ini berlangsung.

Selain kegiatan ilqō’il kalimāt setiap ba’da dzuhur yang ditujukan untuk melatih kefasihan bahasa arab santri, di kegiatan Izhārul Mahāroh ini merupakan puncak dari latihan arabic speaking kita. Ibaratnya ilqō’il kalimāt itu hanya serangkaian batu lonjakan untuk mempersiapkan kita menuju pertunjukkan yang sebenarnya.


Setiap angkatan mendapatkan giliran untuk mengadakan kegiatan ini hanya dua sampai tiga kali saja. Karena kalau kelas 7, kita pasti dinilai belum siap dan jika dihandle oleh kelas 3 semester akhir, mereka terlalu sibuk terkait urusan kelulusan dan wisuda. Untuk PJ ustadz yang membantu kita mengurus kegiatan ini adalah para guru bahasa arab, tapi lebih khusus lagi adalah ustadz Izzan yang terlihat lebih berpengalaman dalam drama dan menguasai banyak hal tentang acara ini.


Singkatnya, Izhārul Mahāroh merupakan kegiatan sebagai ajang para santri terpilih untuk menunjukkan bakat dan keterampilan kita di depan para santri, ustadz dan orang tua. Ya, kegiatan ini juga disiarkan lewat youtube. Dan untuk rundown acaranya hampir tidak pernah berganti dari dulu sampai sekarang. Diawali dengan Sambutan oleh Mudir Ma’had, lalu ketua acara (dari santri) yang memberikan kalimat selamat datang, lalu tentunya ada Tilawah dan Khutbah. Kemudian bagian yang paling ditunggu-tunggu adalah pertunjukan Nasyid dan Drama (dengan bahasa arab), ini merupakan inti acara dengan durasi yang paling lama. Dilanjut dengan atraksi kungfu dan sisanya adalah sesi penutup dan do’a dari ustadz maupun santri.


Peran saya dalam Izhārul Mahāroh angkatan kami adalah menjadi MC dan Khotib. Jadi ceritanya, kami sedang berkumpul saat kelas malam untuk merencanakan kegiatan tersebut. Pembagian dan pemilihan peran pun dilakukan. Yang dirasa memiliki suara bagus biasanya akan menjadi tim Nasyid, yang dirasa kalistenik akan ditunjuk menjadi bagian kungfu, dan begitu seterusnya. Kebetulan saya mendapat peran sebagai MC di Izhārul Mahāroh yang pertama ini. Sebenarnya saya merasa kurang pas, karena saya bukan orang yang paling ekstrovert di angkatan tersebut, dan saat itu juga masih rawan terkena demam panggung. Tapi karena ustadz dan teman-teman saya kompak memilih, saya pun terima apa adanya. Katanya biar jadi duo kembar MC, kebetulan MC nya itu ada 2 orang biar lebih rame, jadi saya dipartnerkan dengan Hammad.



Untuk penyusunan script dan naskahnya kami lakukan sendiri, dan sedikit bantuan dari Ustadz untuk mengecek dan mematangkan. Karena kegiatan ini adalah pertunjukan yang full menggunakan bahasa arab, jadi kami mulai membuat naskahnya dengan bahasa Indonesia dulu kemudian di translate ke arab, agar lebih mudah dan terstruktur. Tentunya kami juga bertanya dengan kakak tingkat kami yang pernah menjadi MC juga di Izhārul Mahāroh angkatan mereka. Kalian bisa tonton pertunjukan kami di link youtube ini.


Dan untuk Izhārul Mahāroh yang kedua, yaitu setelah kami naik ke kelas 9, disaat musyawarah untuk perencanaan kegiatan itu, saya malah mendapatkan peran yang nggak kalah seru, yaitu menjadi Khotib. Walaupun saya sebagai orang introvert, tapi kesepakatannya memang seperti itu, mungkin salah satu pertimbangannya adalah karena saya memiliki nilai bahasa arab yang paling tinggi sekelas (tentunya hanya skala kelas B. Karena nggak tahu kenapa, sepertinya kelas B memang tempat siswa yang tertinggal sedikit daripada kelas A). Akhirnya saya paten terpilih menjadi Khotib di kesempatan kedua ini.



Sebelum berlangsungnya Izhārul Mahāroh, saya mencari-cari waktu untuk mempersiapkan naskah dan penampilan saya. Kebetulan saat itu adalah di bulan Agustus, jadi tema utama Izhārul Mahārohnya adalah tentang kemerdekaan. Berhubung banyak kosakata yang belum saya pelajari seputar kemerdekaan, jadi saya minta naskah dari Ustadznya saja untuk bagian utama isi pidatonya, selebihnya saya atur sendiri. Saya pun mulai sering diam-diam ke tempat jemuran untuk melatih hafalan dan gerakan khutbah saya agar semakin matang. Alhasil pasca Izhārul Mahāroh, Ustadz pun memberikan saya penilaian yang bagus dan mengatakan bahwa “Jika Khotib bersatu dengan Pembicara Sambutan(dari santri) maka akan menggetarkan panggung Izhārul Mahāroh”. Kalian bisa tonton fullnya di link youtube ini.



Share:

Copyright © LANGIT PENGALAMAN | Powered by Blogger
Design by SimpleWpThemes | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com